22 September 2020

Museum Semedo, Situs Sejarah Kebanggaan Kabupaten Tegal

Museum Semedo ini terletak di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng akan menampung kurang lebih 3.100 fosil. Salah satu fosil yang ditemukan di Semedo memiliki usia yang lebih tua dari pada penemuan di Situs Sangiran,

Bupati Tegal Saat Meninjau Kesiapan Museum

Advertisements

Advertisements

Museum ini terletak di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng akan menampung kurang lebih 3.100 fosil

Vanpora.com ( Slawi )

Museum Semedo yang dibangun sejak tahun 2015 berdiri di atas lahan seluas 10.582 meter persegi ini rencananya akan diresmikan dan mulai beroperasi tahun 2021 mendatang.

Museum ini terletak di Desa Semedo Kecamatan Kedungbanteng akan menampung kurang lebih 3.100 fosil. Salah satu fosil yang ditemukan di Semedo ini juga digadang-gadang memiliki usia yang lebih tua dari pada penemuan di Situs Sangiran,

Temuan fosil tersebut merupakan hasil dari para pegiat fosil warga sekitar, diantaranya Bapak Dakri, Anshori, Duman dan Sunardi. Keempatnya adalah warga asli Semedo yang berjasa menemukan fosil-fosil , mulai dari fosil manusia purba hingga fosil fauna yang hidup jutaan tahun yang lalu.

Baca Juga : https://vanpora.com/pemkab-tegal-berencana-bangun-gedung-baru-rsud-dr-soeselo-slawi-senilai-rp-80-miliar/

Atas temuan ini Bupati Tegal Umi Azizah menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada para pegiat fosil karena telah bekerja keras menemukan situs semedo dan menyerahkannya ke Pemerintah Republik Indonesia.

“Mewakili masyarakat Kabupaten Tegal dan Pemkab Tegal saya ucapkan terimakasih. Karena dengan adanya situs ini tentu menjadi sarana pengetahuan bagi anak-anak kita ke depan,” kata Umi saat meninjau kesiapan Museum Semedo pada Jumat (4/9/2020) pagi.

Umi mengajak seluruh warga Semedo untuk merawat dan menjaga Museum Semedo supaya pengunjung yang datang memiliki kesan mendalam. Pemkab Tegal juga telah berproses semenjak tahun 2016 telah bertahap memperbaiki jalan dari area Balamoa hingga Sigentong.

Baca Juga : https://vanpora.com/ada-gaduh-di-gudang-bulog-procot/

Sementara itu, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran Albertus Niko menyampaikan pembangunan Museum Semedo diawali dengan hasil penelitian salah satu fosil penemuan di Semedo.

 “Tahun 2014 kami meneliti fosil dan dari hasil temuan tersebut kami tindak lanjuti hingga Kementerian Kebudayaan sehingga terjadilah pembuatan museum,” ujarnya.

Saat ini Museum Semedo sedang pada tahap pengisian display fosil-fosil hasil temuan para pegiat fosil Semedo.

Awal Mula Fosil Ditemukan

Di tempat yang sama, salah satu pegiat fosil yang bernama Dakri bercerita awal mula dirinya menemukan fosil di Semedo.

Tahun 2011 dirinya menemukan pecahan fargmen manusia purba Homo Erectus , kemudian temuan tersebut diteliti oleh Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.

Tak hanya Homo Erectus , dirinya juga menemukan ribuan fosil lainnya seperti fosil mandibula dan gigi geligi primate besar jenis Gigantopithecus (kingkong), alat paleolitik jenis kapak genggam, kapak penetak, kapak perimbas dan alat serpih hingga alat serut yang berbahan batu koral kersikan.

Tak ketinggalan ada temuan fosil fauna Ordon Proboscidea merupakan binatang besar berbelalai, diantaranya fosil Stegodon Trigonocephalus, Stegodon Pygmy Semedoensis, Stegodon Hypsilopus, Elphas Planifrons dan Elephas Hysundricus.

Dengan adanya Museum Semedo yang memiliki ribuan fosil asli Semedo, Dakri berharap dapat menjadi tempat pengetahuan dan sarana edukasi bagi generasi muda.

“Saya berharap generasi muda bisa memahami bahwa ada kehidupan di masa lalu, dibuktikan dengan temuan-temuan fosil yang ada di Museum Semedo,” imbuh Dakri. ( * )

Total Page Visits: 146 - Today Page Visits: 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *